Senin, Januari 21, 2008

HARTA TIANG PENYANGGA KEHIDUPAN

Harta adalah tiang penyangga utama bagi kehidupan, karena itu maka kehidupan lambat laun akan runtuh manakala tiang penyangganya patah atau hancur. Bahkan, lebih dari itu, tatanan kehidupan batin akan goyah, manakala tiang penyangga yang satu ini terguncang. Rasulullah saw. Telah mengingatkan akan hal itu dalam sabda beliau : “kadal faqru an yakuuna kufran” = nyaris kefakiran dapat membawa kepada kekufuran.

Harta pada hakikatnya adalah milik Allah, amanah Allah yang dilimpahkan kepada manusia untuk dicari dan dikelola dengan sebaik-baiknya. Karena milik Allah maka setiap kita yang menerima harta –sebagai amanah- wajib mempertanggung jawabkan semua itu kepada Allah. Allah yang telah memberikan pelbagai nikmat kepada manusia, kemudian Dia menyuruh manusia mengelola nikmat itu sebaik-baiknya dalam rangka pengabdian kepada-Nya. Karena Allah yang telah mengaruniakan nikmat-nikmat itu kepada manusia maka sangat wajar bila Dia menanyakan kepada manusia untuk apa nikmat-nikmat itu digunakan.

Dalam salah satu hadits riwayat ad-Darimy dan at-Tirmidzi, dari Abi Barzakh al-Aslamy, Rasulullah bersabda :

“Tidak bergeser kedua kaki seorang hamba –menuju batas shirathal-mustaqiem- hingga ditanyakan : (1) tentang umurnya, untuk apa ia habiskan, (2) tentang ilmunya, untuk apa ia amalkan, (3) tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan kemana ia gunakan, (4) tentang badannya, untuk apa ia gunakan”.

Dari hadits ini jelas sekali ditegaskan oleh Rasulullah bahwa pertanggung jawaban dalam pengelolaan harta dituntut dari dua segi, darimana diperoleh dan kemana dipergunakan. Dari sini bisa dilihat bahwa dalam perolehan dan pengelolaan harta terdapat dua prinsip yakni : HALAL dan BERFUNGSI SOSIAL.

Dalam rangka menegakkan, mewujudkan dan mempertahankan prinsip-prinsip inilah makanya harta merupakan ujian terberat bagi manusia. Dalam salah satu hadits riwayat at-Tirmidzi dan al-Hakim, dari Ka’ab bin ‘Iyyadh, Rasulullah bersabda :

“Bagi tiap-tiap ummat itu ada fitnah/ujian, dan sesungguhnya fitnah ummatku adalah harta”.

Ujian hidup dengan harta menjadi semakin berat dan terasa rumit, karena didalamnya telah dipasang perangkap oleh syaitan. Rasulullah menjelaskan tentang perangkap syaitan itu dalam sabdanya :

“Telah bersabda Rasulullah saw. : Syaitan telah mengeluarkan pernyataan: Tidak akan selamat dariku mereka-mereka yang berharta, dari salah satu dari tiga perangkap, dimana ketiga perangkap itu kupasang dihadapannya pagi dan petang (setiap waktu dan kesempatan), yaitu: (1) pengambilan harta dari sumber yang tidak halal, (2) pembelanjaan harta pada jalan yang tidak benar, (3) kecintaan yang bersangatan kepada harta, sehingga ia merasa berat untuk mengeluarkannya pada jalan yang benar” (H.r. at-Thabrany, dari Abdurrahman bin ‘Auf r.a.).

Inti dari pengelolaan harta adalah berupaya menegakkan DUA prinsip : kehalalan dan Fungsi Sosial, dan menghindari TIGA jebakan syaitan, yakni: perolehan dari sumber yang tidak halal, penggunaan pada jalan yang tidak benar dan kecintaan yang bersangatan terhadap harta.

Sejarah kehidupan telah memberikan keterangan dan pelajaran bagi manusia tentang langkah-langkah anak manusia dalam mengelola dan menangani harta, jatuh-bangun, sukses dan gagal, yang telah dialami oleh orang-orang terdahulu dalam bermain-main dengan harta, mempermainkan harta atau bahkan dipermainkan oleh harta dunia. Semua itu menjadi cermin dan rambu-rambu bagi mereka-mereka yang mau mengambil I’tibar, yang mau berguru kepada pengalaman masa lalu atau pengalaman orang lain. Bukankah pengalaman adalah guru yang paling baik ?

Kasus Pertama : yang akan selalu diingat ketika berbicara tentang ujian dengan harta adalah : riwayat sisi kelam dari Tsa’labah.

Suatu hari Tsa’labah bin Khatib datang menemui Rasulullah saw. Ia mengadukan tekanan ekonomi yang dideritanya. Ia bermohon : “Ya Rasulullah, doakan saya supaya Allah memberikan rezeki yang banyak kepadaku”. Nabi berkata: “Tsa’labah, tidakkah kamu ingin meniru keadaanku. Padahal bila aku mau, bukit-bukit pun dapat disuruh berjalan bersamaku”. Tsa’labah mendesak: “Doakan saja aku ya Rasul Allah. Demi Yang Mengutusmu dengan kebenaran, sekiranya Allah memberikan kekayaan kepadaku, aku akan memberikan kepada setiap orang haknya”. Begitu pintanya dan sekaligus janjinya. Dengan lembut Nabi saw. menasehatinya : “Malang betul engkau Tsa’labah, qalilun tuthiqu syukrahu khayrun min katsiirin la tuthiq – sedikit harta tetapi mampu kamu syukuri lebih baik daripada banyak harta tetapi tak mampu kamu syukuri”. Tsa’labah mendesak juga. Akhirnya Nabi berdoa agar Allah melimpahkan kekayaan kepadanya. Tsa’labah mulai berniaga, membeli ternak. Ternaknya berkembang pesat, sehingga peternakannya menjadi sempit. Ia kemudian membangun ranch agak jauh dari Madinah. Setiap hari ia sibuk mengurus ternaknya, ia tidak sempat lagi menghadiri shalat berjamaah bersama Rasulullah siang hari. Peternakannya terus berkembang dan harus memindahkannya ke tempat yang lebih luas dan tentu lebih jauh. Kini, ia tak dapat berjamaah bersama Nabi, baik siang maupun malam. Ketika perkembangan ternaknya mencapai puncak, ia tak dapat menghadiri shalat Jum’at atau ta’dziyah dan mengantar jenazah. Itu karena ia sibuk dengan “jama’ah” ternaknya. Nabi saw. Sering menanyakan ihwalnya, karena merasa kehilangan dia. Orang-orang memberitahu beliau (Rasulullah) bahwa Tsa’labah sekarang sudah sangat kaya, sudah menjadi konglomerat. Kemudian turunlah perintah zakat. Nabi menugaskan dua orang sahabatnya untuk mengumpulkan zakat, seorang untuk anggota Bani Sulaym dan seorang untuk Tsa’labah. Ketika mereka menemui Tsa’labah, kepada utusan Rasul itu dengan penuh kecurigaan Tsa’labah menanyai dan menyatakan bahwa tugasmua memungut jizyah, karena itu anda keliru dating kepadaku, pergi saja kalian ke tempat lain, begitu kata Tsa’labah. Ketika utusan Nabi saw. Menemui Bani Sulaym, mereka disambut hangat karena mereka beranggapan bahwa menghormati utusan Nabi sama halnya dengan menghormati Nabi saw. Sulaym menyerahkan ternaknya yang bagus-bagus –sebagai zakat-. Ketika kepadanya (Bani Sulaym) dikatakan bahwa ia membayar berlebih, Banu Sulaym berkata: Aku tidak ingin mendekatkan diri kepada Aallah kecuali dengan hartaku yang paling baik.

Ketika kedua utusan itu tiba kembali di Madinah, sebelum mereka bicara apa-apa, Rasulullah sudah mendahului berkata: Celakalah Tsa’labah dan semoga Allah memberkati Sulaym. Pada waktu itu turunlah ayat :

“Dan diantara mereka ada orang yang berjanji kepada Allah: Sekiranya Tuhan memberikan anugerah-Nya kepada kami, kami akan bersedekah dan menjadi orang yang saleh. Tetapi setelah Tuhan memberikan anugerah-Nya, ternyata mereka berpaling dan mengingkari janjinya. Maka Allah menimpakan kepada mereka kemunafikan sampai hari ketika mereka berjumpa dengan Dia karena mengingkari janji kepada Allah dan berdusta.Tidakkah mereka tahu bahwa Allah mengetahui rahasia dan bisikan hati mereka. Sungguh Allah Maha Tahu akan apa yang tersembunyi” (Q.s. al-Baraah/at-Taubah : 75-78 ).

Kasus Kedua : Cerita tentang sebatang korma.

Pada zaman Nabi saw., pohon korma sama seperti tanah pada zaman agricultural, modal pada masyarakat kapitalis. Makin banyak orang memiliki pohon korma, makin kaya dia, makin tinggi statusnya di tengah-tengah masyarakat.

Di Madinah ada sebatang korma yang sangat bersejarah. Sehubungan dengan kurma itu, beberapa ayat Al-Qur’an turun dari langit. Pohon korma itu tumbuh di halaman rumah dan milik orang kaya, tetapi batangnya condong ke rumah orang miskin yang banyak anaknya. Sekali-sekali yang empunya memetik buah korma itu, sebagian buahnya berjatuhan ke halaman si miskin, dan tentu anak-anak yang lapar memungutnya dan memakannya. Menyaksikan hal itu, yang empunya bergegas turun. Ia pungut butir-butir korma yang jatuh, ia rebut butir-butir yang masih di genggaman anak-anak lapar itu, bahkan yang sudah di mulutpun dikoreknya. Ia berusaha menyelamatkan setiap butir korma yang menjadi miliknya. Ia tak mau itu “direbut” oleh orang lain, si miskin sekalipun.

Orang miskin itu dating mengadukan halnya kepada Rasul. Rasul dengan segera menemui pemilik korma itu. “Berikan padaku pohon korma yang condong ke rumah Fulan, nanti Allah akan mengganmtikan kamu dengan sebatang korma di sorga”, begitu bujuk Rasul. Pemilik korma berkata: “Aku punya banyak pohon korma, tetapi korma yang satu ini yang paling aku sayangi karena buahnya lebat dan manis lagi”. Setelah itu ia ngeloyor pergi meninggalkan Rasul begitu saja.

Adapun Abu Dahdah, -sahabat Nabi- mendengar peristiwa itu segera menemui Rasul saw. “Ya Rasul Allah, sekiranya aku mengambil pohon korma itu dan memberikannya kepada orang miskin itu, apakah Tuan berikan juga bagiku pohon korma di sorga ? ia bertanya. Dan Rasul yang mulia mengagguk. Segera setelah itu Abu Dahdah menemui pemilik korma. Setelah berunding dengan a lot, pemilik korma akhirnya bersedia menyerahkan pohon korma itu setelah ditukar dengan empat puluh batang korma yang lain. Setelah negosiasi itu berlalu, dengan gembira Abu Dahdah menemui Nabi saw. “Ya Rasul Allah, ya Rasul Allah, pohon korma itu sekarang milikmu, aku sudah membelinya”. Nabi saw. Kemudian menyerahkan pohon korma itu kepada orang miskin dan keluarganya. Tentu saja, keluarga miskin itu sangat gembira, akan tetapi yang paling bahagia adalah Abu Dahdah, ia telah menanam pohon korma di sorga.

Hari itu turunlah surah al-Layl. Allah memuji Abu Dahdah dan mengecam pemilik korma yang rakus. Tentang Abu Dahdah Allah berfirman :

“Sebab itu, siapa yang memberi dan bertaqwa, dan percaya akan berita gembira, Kami akan berikan kepadanya jalan kemudahan” (Q.s. al-Layl : 5-7 ).

Tentang pemilik korma yang rakus dan pelit itu Allah berfirman :

“Tetapi orang yang kikir dan merasa serba ada, dan mendustakan (tidak percaya) berita gembira, Kami akan berikan kepadanya jalan kesulitan. Kenyataannya, tiada berguna baginya segala harta benda itu ketika ia dibinasakan” (Q.s. al-Layl : 8-11 ).


Memang sejak semula kita menyadari bahwa harta adalah tiang pancang kehidupan ini, akan tetapi mungkin belum semua kita menyadari bahwa harta adalah juga batu ujian, bahkan mungkin hanya sedikit orang yang sadar bahwa harta adalah juga medan tempat syaitan memasang perangkap-perangkapnya untuk menyesatkan manusia di jalan kehidupan ini.

Surah al-Layl mungkin sering kita dengan, dan cerita tentang Tsa’labah serta Abu Dahdah telah berlalu dari pendengaran dan kesadaran kita, dan bahkan banyak pula kejadian-kejadian yang serupa tapi tak sama dengan kasus-kasus di atas, barangkali sering juga berlalu di depan mata kita, atau menyentuh kita dan bahkan menghujat kita semua. Apakah kita menjadi sosok seperti Tsa’labah, yang karena kerakusannya menjadikan ia melupakan janji-janjinya, melupakan kewajibannya dan tugas keagamaannya, bahkan membuat ia lupa diri dan lupa Tuhannya. Ataukah kita sudah menjadi orang seperti pemilik korma, yang dengan rakusnya menyelamatkan, mengejar dan memburu setiap butir harta, walau dengan merebut makanan orang-orang miskin dari mulut-mulut mereka, yang selalu mengejar dan menumpuk harta, yang sangat pandai mengali tapi tak pernah bisa-bisa membagi. Ataukah kita adalah seperti Abu Dahdah yang setiap saat siap membagi kelebihannya kepada orang lain yang memerlukan, untuk menanam pohon korma di sorga.

Semuanya terpulang kepada diri kita masing-masing untuk memahami, menyikapi dan memaknainya. Semoga dengan bimbingan dan pertolongan Allah swt. Kita dapat memilah dan memilih yang terbaik untuk kita dan untuk semua. Bangsa, Negara, dan agama. S e m o g a .

Banjarbaru, 09 Januari 2008

AHMAD KUSASI

1 komentar:

Ahmad Kusasi LPMP KALSEL mengatakan...

SELAMAT DEH, MUDAH-MUDAHAN BLOGGERNYA TETAP UP DATE TERUS, TIAP HARI SELALU BARU YA...?